Psikoterapi Tugas 3

1. LOGOTERAPI

Konseling logoterapi merupakan bagian dari pendeLogoterapi Konseling logoterapi merupakan bagian dari pendekatan eksistensial yang diperkenalkan oleh Viktor Frankl pada tahun 1992 dalam bukunya, Man’s Searching for Meaning (Glassman, 1995). Frankl berpendapat bahwa gangguan yang dialami individu merupakan hasil dari kegagalan mencari makna hidup yang biasanya diperoleh dari penderitaan dan kehilangan, serta kegagalan dalam membuat pilihan yang bermakna dan memaksimalkan potensi individu. Frankl berpendapat bahwa setiap saat terdapat kesempatan baru untuk membuat pilihan dan menciptakan apapun.

Tahapan dalam konseling logoterapi mencakup perkenalan, pengungkapan dan penjajagan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan sikap dan perilaku untuk meningkatkan kebermaknaan hidup Proses dan tahapan konseling logoterapi sejalan dengan konseling pada umumnya, dan komponen logoterapi dibahas selama pelaksanaan. Konseling logoterapi merupakan konseling pada individu yang mengalami ketidakjelasan makna dan tujuan hidup sehingga menyebabkan kehampaan dan kehilangan gairah hidup, bukan untuk kasus patologis berat yang membutuhkan psikoterapi.

Empat langkah konseling logoterapi:
(1) mengambil jarak atas gejala (distance from symptoms)
Dimana konselor membantu menyadarkan subjek bahwa gejala sama sekali tidak identik dan mewakili diri subjek, namun semata-mata merupakan kondisi yang diala- mi dan dapat dikendalikan
(2) modifkasi sikap (modifcation of attitude)
Dimana konselor membantu subjek untuk mendapatkan pan- dangan baru atas diri dan kondisinya, selan- jutnya subjek menentukan sikap baru untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya
(3) pengurangan gejala (reducing symptoms)
Dimana konselor menggunakan teknik logoterapi berupa derefection untuk menghilangkan atau mengurangi dan mengendalikan gejala pada subjek
(4) orientasi terhadap makna (orientation toward meaning)
Dimana konselor bersama subjek membahas bersama nilai-nilai dan makna hidup yang secara potensial ada dalam kehidupan subjek, memperdalam dan menjabarkannya menjadi tujuan yang lebih konkrit. Melalui langkah- langkah tersebut, subjek akan menemukan makna hidupnya dan dapat mengendalikan gejala fIsik yang dirasakan subjek.

  Unsur-unsur Logoterapi :
1. Munculnya Gangguan
Logoterapi menggunakan teknik tertentu untuk mengatasi phobia(rasa takut yang berlebihan), kegelisahan, obsesi tak terkendali dari pemakai obat-obatan terlarang. Selain itu juga termasuk untuk mengatasi kenakalan remaja, konsultasi terhadap masalah memilih pekerjaan dan membantu semua masalah dalam kehidupan.Jika dikaitkan dengan konseling maka Konseling logoterapi suatupendekatan yang digunakan untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (futureoriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented).

2. Tujuan Terapi
Bertujuan agar dalam masalah yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut.

3. Peranan Terapis
Menurut Semiun (2006) terdapat beberapa peranan terapis,
          a. Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah.
          b. Mengendalikan filsafat pribadi
          c. Terapis bukan guru atau pengkhotbah
          d. Memberi makna lagi pada hidup
          e. Memberi makna lagi pada penderitaan
          f. Menekankan makna kerja
          g. Menekankan makna cinta


Teknik Logoterapi

1.Itensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiperintensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti. Seorang pemuda yang selalu gugup ketika bergaul dengan banyak disuruh Frankl untuk menginginkan kegugupan itu. Contoh lain adalah masalah tidur. Menurut Frankl, kalau anda menderita insomnia, anda seharusnya tidak mencoba berbaring ditempat tidur, memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan sebagainya. Anda justru harus berusaha terjaga selama mungkin. Setelah itu baru anda akan merasakan adanya kekuatan yang mendorong anda untuk melangkah ke kasur.

2. Derefleksi, Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, kalau mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan anda tanpa memperdulikan kepuasan diri anda sendiri. Atau cobalah untuk tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan anda.




Bastaman, H.D. 2007. Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jspp/article/view/1496/1599

http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/214 jiptiain%E2%80%93rizaamalia-10695-4-babii.pdf






2. PERSON CENTERED THERAPY


 Menurut Rogers selain nilai yang dipelajari dalam keluarga, sekolah,gereja biasanya terjadi ketidaksesuaian antara pengalaman individu seperti:seksualitas adalah suatu kesalahan, kepatuhan dalam suatu otoritas itu baik,mendapatkan banyak uang merupakan hal yang penting, perempuan seharusnya tidak menjadi pribadi yang mandiri dan asertif. Ke semua pengalaman, perasaan, gagasan, perilaku tersebut diakui oleh beberapaorang yang secara radikal sehingga individu mulai mengalami perkembangan yang tidak sehat dan berakibat pada terjadinya kecemasan, dimana hal ini merupakan faktor penyebab terjadinya perilaku yang tidak sehat.

Menurut Corey (2009: 169) pendekatan Person-centered menolak peran terapis sebagai pemegang otoritas yang tahu apa terbaik bagi klien dan klien bersikap pasif yang hanya mengikuti perintah dari terapis. Proses terapi berakardari kapasitas klien untuk mencapai kesadaran dan perubahan self-directed dalam sikap dan perilaku. Terapis person-centered berfokus pada sisi konstruktifdari sifat manusia. Penekanannya adalah pada bagaimana klien bertindak dalam dunia mereka dengan orang lain, bagaimana mereka dapat bergerak maju ke arahyang konstruktif, dan bagaimana mereka dapat berhasil menghadapi kendala (baik dari dalam diri mereka sendiri dan di luar diri mereka sendiri) yang menghalangi pertumbuhan mereka. Praktisi dengan orientasi humanistik mendorong klien mereka untuk membuat perubahan yang akan menyebabkanhidup sepenuhnya dan otentik, dengan kesadaran bahwa eksistensi semacam ini menuntut perjuangan selanjutnya. Orang tidak pernah sampai pada suatu kondisi aktualisasi diri final, melainkan mereka terus-menerus terlibat dalam proses aktualisasi diri.


Unsur – Unsur Terapi

1. Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.

2. Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.


Teknik Terapi

Empati
Kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.

Positive Regard
Di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya. sebagai persepsi dari beberapa pengalaman diri yang membuat perbedaan positif dalam suatu pengalaman, sehingga menimbulkan perasaan hangat, menyukai, rasahormat, simpati dan penerimaan kepada yang lain. Kepuasan padakebutuhan ini tergantung pada kesimpulan mengenai pengalaman lain.manusia memandang dirinya secara positif ketika mereka mampumenerima dirinya sendiri. Pandangan diri yang positif.

Congruence / Kongruensi
Adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan. Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.




Corsini, R. (2000). CURRENT PSYCHOTHERAPIES. Itasca , Illinois: F.E. PeacockPublishers.
Murad, J. (2006). Dasar – Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.









3. ANALISIS TRANSAKSIONAL

Analisis Transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam terapi kelompok.AT berbeda dengan sebagian besar terapi lain dalam arti ia adalah suatu terapi kontraktual dan desisional. Analisisn Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arti proses terapi, juga berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien, dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. Teori Berne, menggunakan beberapa kata utama dan menyajikan suatu kerangka yang bisa dimengerti dan dipelajari dengan mudah. Kata-kata utamanya adalah orang tua, orang dewasa, anak, putusan, putusan ulang, permainan, skenario, pemerasan, dicampuri, pengabdian dan ciri khas.

AT adalah suatu proses transaksi atau perjanjian yang mana melalui perjanjian inilah proses terapi akan dikembangkan sendiri oleh klien hingga proses pengambilan keputusan pun diambil sendiri oleh klien. Eric Berne pioner yang menerapkan transaksional analisa dalam psikoterapi. Dalam terapi ini hubungan konselor dan konseli dipandang sebagai suatu transaksional (interaksi, tindakan yang diambil, tanya jawab) dimana masing-masing individu berhubungan satu sama lain. Transaksi menurut Berne merupakan manivestasi hubungan sosial.

AT cenderung mempersamakan kekuasaan terapis dan klien dan menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan diubahnya agar perubahan menjadi kenyataan, klien mengubah tingkah lakunya secara aktif. Selama pertemuan terapi, klien melakukan evaluasi terhadap arah hidupnya, berusaha memahami putusan-putusan awal yang telah dibuatnya, serta menginsafibahwa sekarang ia menetapkan orang dan memulai suatu arah baru dalam hidupnya.Pada dasarnya, AT berasumsi bahwa orang-orang bias belajar mempercayai dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaannya.
Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam analis transaksional adalah upaya untuk merangsang tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran yang logis, rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.Secara historis analisis transaksional dari Eric Berne berasal dari psikoanalisis yang dipergunakan dalam konseling/terapi kelompok, tetapi kini telah dipergunakan pula secara meluas dalam konseling/terapi individual.

Adapun tujuan dari konseling ini ialah:
1. Mendekontaminasikan ego state yang terganggu
2. Membantu mengunakan ketiga ego state yang terganggu
3. Membantu menggunakan ego state adult secara optimal
4. Mendorong berkembangnya life position SOKO dan lifi script baru dan produktif.


Berikut ini akan dibahas hal-hal yang harus diperhatikan konselor dalam melakukan konseling dengan menggunakan analisis transaksional.
1. Analisis struktur
Menjelaskan kepada klien bahwasanya kita sebagai indvidu mengemban tiga ego state dan menjelaskan tentang ego state itu satu persatu, sehingganya individu itu sadar ego state yang mana yang lebih dominan dalam dirinya.
2. Analisis transaksional
Konselor menganalisis pola transaksi dalam kelompok, sehingganya konselor dapat mengetahui ego state yang mana yang lebih dominan dan apakah ego state yang ditampilkan tersebut sudah tepat atau belum.
3. Analisis permainan
Konselor menganalisis suasana permainan yang diikuti oleh klien untuk mendapat sentuhan, setelah itu dilihat apakah kline mampu menanggung resiko atau malah bergerak kearah resiko yang tingkatnya lebih rendah.
4. Analisis naskah hidup
Hal ini dilakukan apabila konselor sudah meyakini bahwasanya kliennya terjangkiti posisi hidup yang tidak sehat.


Teknik Terapi

1. Permission
Memperbolehkan klien melakukan apa yang tidak boleh dilakukan oleh orang tuanya
2. Protection
Melindungi klien dari ketakutan karena klien disuruh melanggar terhadap peraturan orang tuanya.
3. Potency
Mendorong klien untuk menjauhkan diri klien dari injuction yang diberikan orang tuanya.
4. Operation
a). Interrogation
Mengkonfrontasikan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada diri klien sehingganya berkembang respon adult dalam dirinya.
b). Specification
Mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingganya klien paham tentang ego statenya.
c). Confrontation
Menunjukkan kesenjangan atau ketidak beresan pada diri klien
d). Explanation
Transaksi adult-adult yang terjadi antara konselor dengan klien untuk menejlaskan mengapa hal ini terjadi (konselor mengajar klien)
e). Illustration
Memberikan contoh pengajaran kepada klien agar ego statenya digunakan secara tepat.
f). Confirmation
Mendorong klien untuk bekerja lebih keras lagi.
g). Interpretation
Membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah lakunya
h). Crystallization
Menjelaskan kepada klien bahwasanya klien sudah boleh mengikuti games untuk mendapatkan stroke yang diperlukannya.



https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=analisis%20transaksional%20unsur%20teknik&source=web&cd=7&ved=0CDoQFjAG&url=http%3A%2F%2Fstaff.uny.ac.id%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles%2Fpendidikan%2FSugiyanto%2C%2520M.Pd.%2F14.%2520Bahan%2520Ajar%25206%2520konseling%2520TA.PDF&ei=n0pCVeKSD42SuASPw4GYCg&usg=AFQjCNFy9Uub3aXVlNg0seGjYv-uKzt8Mw&bvm=bv.92189499,d.c2E

Taufik. 2009. Model-model konseling. Padang: Jurusan BK FIP UNP

Category: 0 comments
Transparent Sexy Pink Heart