Psikoterapi Tugas 4

Perspektif Integratif

 pendekatan integratif melibatkan upaya yang disengaja untuk mengintegrasikan teknik dalam repertoar penolong. Meskipun model-model yang berbeda mencoba untuk menjelaskan proses ini (lih Brooks-Harris, 2008; O'Leary & Murphy, 2006; Stricker & Gold 2006, O'Leary, 2006), sebagian besar model ini membahas beberapa elemen umum yang menyebabkan saya untuk melihat pendekatan integratif sebagai proses perkembangan yang bergerak dari kekacauan, untuk koalesensi, untuk keragaman, dan berakhir dengan komitmen untuk metateori.

Tahap 1: Kekacuan
Tahap awal ini mengembangkan pendekatan eklektik didasarkan pada pengetahuan yang terbatas dari teori dan melibatkan saat-demi-saat penilaian subjektif dari penolong. Sering dipraktekkan sedangkan siswa masih dalam program pelatihan, pendekatan ini adalah penolong pertama upaya untuk menarik orientasi teoritis bersama-sama berbeda, dan jika digunakan dengan klien, mungkin akan membantu terbatas.

Tahap 2: Koalesensi
Seperti teori yang dipelajari, sebagian besar pembantu mulai melayang ke arah kepatuhan terhadap satu pendekatan. Meskipun mereka kebanyakan menganggap salah satu teori, mereka mulai menggunakan beberapa teknik dari pendekatan lain ketika mereka percaya akan membantu untuk klien. 

Tahap 3: Keberagaman
Selama tahap ini, pembantu telah benar-benar belajar satu teori dan mulai mendapatkan pengetahuan yang solid dari satu atau lebih teori lain. Mereka juga sekarang mulai menyadari bahwa salah satu teori mungkin sama efektif untuk banyak klien. Pengetahuan ini menyajikan dilema bagi konselor (Spruill & Benshoff, 2000): "Apa perspektif teoretis yang harus saya patuhi, dan bagaimana mungkin saya menggabungkan, atau gunakan pada waktu yang berbeda, dua atau perspektif lebih teoritis sehingga saya bisa menawarkan yang paling efektif pengobatan? "Pada akhirnya, pembantu ini dapat merasakan lancar dengan pendekatan yang berbeda dan kadang-kadang bersedia untuk mengintegrasikan pendekatan-pendekatan lain dalam pendekatan utamanya. 

Tahap 4: metateori
Metateori ini adalah pendekatan pikiran-melalui yang defi nes sifat teoritis pekerjaan terapis (misalnya, psikodinamik, humanistik, kognitif-perilaku, post-modern, sistem, dll), dan biasanya menggabungkan sejumlah unsur yang berbeda dari banyak teori konseling dan terapi.
Multikultural / Keadilan Sosial Fokus: Bias dalam Pendekatan Konseling
Beberapa nilai-nilai yang dianut oleh banyak pendekatan ini meliputi berikut (Hansen, 2008; Ivey, D'Andrea, Ivey, & Simek-Morgan, 2002; Kim, 2004; Sue & Sue, 2003).

Pentingnya individualisme dan mampu menyelesaikan masalah pada diri sendiri. Hal ini lebih sehat untuk mengekspresikan perasaan daripada tidak mengungkapkannya. Satu harus mencari di dalam "diri" untuk menemukan kebenaran keberadaan seseorang. Jika salah satu bekerja cukup keras, ia akan bertemu dengan sukses ketika bekerja pada masalah. Pikiran-tubuh dualisme, atau perasaan bahwa ada pemisahan diri pemikiran kita dan diri fisik kita. Kebenaran dapat ditemukan, atau ditemukan, melalui penyelidikan keilmuan. Fakta dapat ditemukan, nilai-nilai pendapat. Faktor eksternal adalah dari dampak kecil pada keadaan psikologis internal. Untuk beberapa klien, nilai-nilai di atas bekerja. Klien ini ingin mencari di dalam diri, berhubungan dengan perasaan mereka, mengungkap "kebenaran," dan bekerja keras, sendiri, untuk merasa lebih baik. Klien lainnya tidak memegang nilai-nilai di atas dan dapat diberi label oleh beberapa terapis yang tahan, defensif, atau kurang wawasan.


Unsur-unsur terapi

Tujuan terapi
Membantu klien mengembangkan integritasnya pada level tertinggi, yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan. Menyadari klien sepenuhnya mengenai situasi masalahnya.
Mengajarkan klien secara sadar dan intensif memiliki latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku.

Peran terapis
Peran terapis sangat ditentukan oleh pendekatan yang digunakan dalam proses terapi. Beberapa ahli memberi penekanan bahwa terapis perlu memberi perhatian kepada klien agar dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan yang diinginkan klien. Pada dasarnya seluruh pendekatan berkeinginan membantu terapis mengubah diri klien di atas masalah tingkah laku.


Teknik-teknik Pendekatan Integratif

Seligman dan Reichenberg (2010) mengenal pasti jenis-jenis pendekatan eklektik atau integratif yaitu:

1. Integratif tanpa teori – pendekatan ini tidak berlandaskan mana-mana teori. Kaunselor berkemungkinan menggunakan justifkasi sendiri dalam memberi konseling. Implikasi dari pendekatan seperti ini ialah konselor mungkin memberi konseling tanpa panduan, dan boleh mengelirukan klien. Oleh sebab itu konseling masih belum berada di peringkat profesional seperti negara maju jadi kebanyakan orang memahami bahwa hanya konselor berlesensi layak memberi konseling, maka konselor palsu memberi bantuan dan akhirnya implikasinya bukan saja kepada klien tetapi juga kepada konselor.

2. Integratif berdasarkan faktor kebiasaan (common factors) – mengikut pendekatan integratif ini, beberapa elemen dalam hubungan terapeutik seperti memberi dorongan, empati, penerimaan tanpa syarat boleh mendorong perubahan klien. Penggunaan elemen-elemen yang menggalakkan hubungan terapeutik dibandingkan dengan intervensi tertentu tanpa menggunakan teori yang spesifik. Elemen yang boleh dikategorikan sebagai faktor kebiaasaan ini diterima dan disarankan oleh semua pendekatan, walaupun pendekatan Pemusatan Klien merupakan salah satu pelopor yang menggalakkan penggunaan faktor kebiasaan ini tanpa teknik tertentu. Perlu ditekankan di sini, konselor mungkin beranggapan pendekatan ini mudah sedangkan hakikatnya ia adalah pendekatan yang memerlukan kecekapan konselor supaya tidak sewenang-wenang membenarkan diri sendiri yang bermanfaat bagi klien.

3. Integratif teknikal – pendekatan ini konselor membuat kombinasi antara kepelbagaian teori dengan cara menggunakan teknik atau intervensi tertentu dari pelbagai teori. Walaupun konselor menggunakan teknik dan intervensi dari pelbagai teori, konselor tidak semestinya menggunakan teori-teori tersebut dalam konseling. Penggunaan pendekatan ini hanyalah teknik dan intervensi yang menyesuaikan dengan klien dan masalah yang dihadapinya. Contoh pendekatan ini ialah pendekatan Multimodal yang diperkenalkan oleh Lazarus.

4. Integrasi teori – pengintegrasian teori bermakna konselor atau ahli terapi mengintegrasikan dua atau lebih teori dalam  konseling. Kombinasi antara teori membolehkan konselor membentuk pendekatan baru yang efektif dan menyesuaikan dengan klien. Pendekatan ini berfokuskan kombinasi teori dan bukan berfokuskan kombinasi teknik. Contoh pendekatan yang menggunakan integrasi teori ialah Developmental Counseling and Therapy (DCT) yang diasaskan oleh Allen dan Ivey, Sandra Rigazio-DiGillio dan rakan-rakan mereka. 




Sumari, M. Hatina, I. dkk. (2014). Teori Kaunseling dan Psikoterapi. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya
https://docs.google.com/document/d/19.../edit?usp=sharing
Habib & Hidayati. 2012. Intervensi Psikologis pada Pendidikan Anak dengan Keterlambatan Bicara. Jurnal Madrasah, 5, 1, 86-91.
Category: 0 comments

Psikoterapi Tugas 3

1. LOGOTERAPI

Konseling logoterapi merupakan bagian dari pendeLogoterapi Konseling logoterapi merupakan bagian dari pendekatan eksistensial yang diperkenalkan oleh Viktor Frankl pada tahun 1992 dalam bukunya, Man’s Searching for Meaning (Glassman, 1995). Frankl berpendapat bahwa gangguan yang dialami individu merupakan hasil dari kegagalan mencari makna hidup yang biasanya diperoleh dari penderitaan dan kehilangan, serta kegagalan dalam membuat pilihan yang bermakna dan memaksimalkan potensi individu. Frankl berpendapat bahwa setiap saat terdapat kesempatan baru untuk membuat pilihan dan menciptakan apapun.

Tahapan dalam konseling logoterapi mencakup perkenalan, pengungkapan dan penjajagan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan sikap dan perilaku untuk meningkatkan kebermaknaan hidup Proses dan tahapan konseling logoterapi sejalan dengan konseling pada umumnya, dan komponen logoterapi dibahas selama pelaksanaan. Konseling logoterapi merupakan konseling pada individu yang mengalami ketidakjelasan makna dan tujuan hidup sehingga menyebabkan kehampaan dan kehilangan gairah hidup, bukan untuk kasus patologis berat yang membutuhkan psikoterapi.

Empat langkah konseling logoterapi:
(1) mengambil jarak atas gejala (distance from symptoms)
Dimana konselor membantu menyadarkan subjek bahwa gejala sama sekali tidak identik dan mewakili diri subjek, namun semata-mata merupakan kondisi yang diala- mi dan dapat dikendalikan
(2) modifkasi sikap (modifcation of attitude)
Dimana konselor membantu subjek untuk mendapatkan pan- dangan baru atas diri dan kondisinya, selan- jutnya subjek menentukan sikap baru untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya
(3) pengurangan gejala (reducing symptoms)
Dimana konselor menggunakan teknik logoterapi berupa derefection untuk menghilangkan atau mengurangi dan mengendalikan gejala pada subjek
(4) orientasi terhadap makna (orientation toward meaning)
Dimana konselor bersama subjek membahas bersama nilai-nilai dan makna hidup yang secara potensial ada dalam kehidupan subjek, memperdalam dan menjabarkannya menjadi tujuan yang lebih konkrit. Melalui langkah- langkah tersebut, subjek akan menemukan makna hidupnya dan dapat mengendalikan gejala fIsik yang dirasakan subjek.

  Unsur-unsur Logoterapi :
1. Munculnya Gangguan
Logoterapi menggunakan teknik tertentu untuk mengatasi phobia(rasa takut yang berlebihan), kegelisahan, obsesi tak terkendali dari pemakai obat-obatan terlarang. Selain itu juga termasuk untuk mengatasi kenakalan remaja, konsultasi terhadap masalah memilih pekerjaan dan membantu semua masalah dalam kehidupan.Jika dikaitkan dengan konseling maka Konseling logoterapi suatupendekatan yang digunakan untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (futureoriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented).

2. Tujuan Terapi
Bertujuan agar dalam masalah yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut.

3. Peranan Terapis
Menurut Semiun (2006) terdapat beberapa peranan terapis,
          a. Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah.
          b. Mengendalikan filsafat pribadi
          c. Terapis bukan guru atau pengkhotbah
          d. Memberi makna lagi pada hidup
          e. Memberi makna lagi pada penderitaan
          f. Menekankan makna kerja
          g. Menekankan makna cinta


Teknik Logoterapi

1.Itensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiperintensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti. Seorang pemuda yang selalu gugup ketika bergaul dengan banyak disuruh Frankl untuk menginginkan kegugupan itu. Contoh lain adalah masalah tidur. Menurut Frankl, kalau anda menderita insomnia, anda seharusnya tidak mencoba berbaring ditempat tidur, memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan sebagainya. Anda justru harus berusaha terjaga selama mungkin. Setelah itu baru anda akan merasakan adanya kekuatan yang mendorong anda untuk melangkah ke kasur.

2. Derefleksi, Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, kalau mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan anda tanpa memperdulikan kepuasan diri anda sendiri. Atau cobalah untuk tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan anda.




Bastaman, H.D. 2007. Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jspp/article/view/1496/1599

http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/214 jiptiain%E2%80%93rizaamalia-10695-4-babii.pdf






2. PERSON CENTERED THERAPY


 Menurut Rogers selain nilai yang dipelajari dalam keluarga, sekolah,gereja biasanya terjadi ketidaksesuaian antara pengalaman individu seperti:seksualitas adalah suatu kesalahan, kepatuhan dalam suatu otoritas itu baik,mendapatkan banyak uang merupakan hal yang penting, perempuan seharusnya tidak menjadi pribadi yang mandiri dan asertif. Ke semua pengalaman, perasaan, gagasan, perilaku tersebut diakui oleh beberapaorang yang secara radikal sehingga individu mulai mengalami perkembangan yang tidak sehat dan berakibat pada terjadinya kecemasan, dimana hal ini merupakan faktor penyebab terjadinya perilaku yang tidak sehat.

Menurut Corey (2009: 169) pendekatan Person-centered menolak peran terapis sebagai pemegang otoritas yang tahu apa terbaik bagi klien dan klien bersikap pasif yang hanya mengikuti perintah dari terapis. Proses terapi berakardari kapasitas klien untuk mencapai kesadaran dan perubahan self-directed dalam sikap dan perilaku. Terapis person-centered berfokus pada sisi konstruktifdari sifat manusia. Penekanannya adalah pada bagaimana klien bertindak dalam dunia mereka dengan orang lain, bagaimana mereka dapat bergerak maju ke arahyang konstruktif, dan bagaimana mereka dapat berhasil menghadapi kendala (baik dari dalam diri mereka sendiri dan di luar diri mereka sendiri) yang menghalangi pertumbuhan mereka. Praktisi dengan orientasi humanistik mendorong klien mereka untuk membuat perubahan yang akan menyebabkanhidup sepenuhnya dan otentik, dengan kesadaran bahwa eksistensi semacam ini menuntut perjuangan selanjutnya. Orang tidak pernah sampai pada suatu kondisi aktualisasi diri final, melainkan mereka terus-menerus terlibat dalam proses aktualisasi diri.


Unsur – Unsur Terapi

1. Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.

2. Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.


Teknik Terapi

Empati
Kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.

Positive Regard
Di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya. sebagai persepsi dari beberapa pengalaman diri yang membuat perbedaan positif dalam suatu pengalaman, sehingga menimbulkan perasaan hangat, menyukai, rasahormat, simpati dan penerimaan kepada yang lain. Kepuasan padakebutuhan ini tergantung pada kesimpulan mengenai pengalaman lain.manusia memandang dirinya secara positif ketika mereka mampumenerima dirinya sendiri. Pandangan diri yang positif.

Congruence / Kongruensi
Adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan. Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.




Corsini, R. (2000). CURRENT PSYCHOTHERAPIES. Itasca , Illinois: F.E. PeacockPublishers.
Murad, J. (2006). Dasar – Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.









3. ANALISIS TRANSAKSIONAL

Analisis Transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam terapi kelompok.AT berbeda dengan sebagian besar terapi lain dalam arti ia adalah suatu terapi kontraktual dan desisional. Analisisn Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arti proses terapi, juga berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien, dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. Teori Berne, menggunakan beberapa kata utama dan menyajikan suatu kerangka yang bisa dimengerti dan dipelajari dengan mudah. Kata-kata utamanya adalah orang tua, orang dewasa, anak, putusan, putusan ulang, permainan, skenario, pemerasan, dicampuri, pengabdian dan ciri khas.

AT adalah suatu proses transaksi atau perjanjian yang mana melalui perjanjian inilah proses terapi akan dikembangkan sendiri oleh klien hingga proses pengambilan keputusan pun diambil sendiri oleh klien. Eric Berne pioner yang menerapkan transaksional analisa dalam psikoterapi. Dalam terapi ini hubungan konselor dan konseli dipandang sebagai suatu transaksional (interaksi, tindakan yang diambil, tanya jawab) dimana masing-masing individu berhubungan satu sama lain. Transaksi menurut Berne merupakan manivestasi hubungan sosial.

AT cenderung mempersamakan kekuasaan terapis dan klien dan menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan diubahnya agar perubahan menjadi kenyataan, klien mengubah tingkah lakunya secara aktif. Selama pertemuan terapi, klien melakukan evaluasi terhadap arah hidupnya, berusaha memahami putusan-putusan awal yang telah dibuatnya, serta menginsafibahwa sekarang ia menetapkan orang dan memulai suatu arah baru dalam hidupnya.Pada dasarnya, AT berasumsi bahwa orang-orang bias belajar mempercayai dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaannya.
Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam analis transaksional adalah upaya untuk merangsang tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran yang logis, rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.Secara historis analisis transaksional dari Eric Berne berasal dari psikoanalisis yang dipergunakan dalam konseling/terapi kelompok, tetapi kini telah dipergunakan pula secara meluas dalam konseling/terapi individual.

Adapun tujuan dari konseling ini ialah:
1. Mendekontaminasikan ego state yang terganggu
2. Membantu mengunakan ketiga ego state yang terganggu
3. Membantu menggunakan ego state adult secara optimal
4. Mendorong berkembangnya life position SOKO dan lifi script baru dan produktif.


Berikut ini akan dibahas hal-hal yang harus diperhatikan konselor dalam melakukan konseling dengan menggunakan analisis transaksional.
1. Analisis struktur
Menjelaskan kepada klien bahwasanya kita sebagai indvidu mengemban tiga ego state dan menjelaskan tentang ego state itu satu persatu, sehingganya individu itu sadar ego state yang mana yang lebih dominan dalam dirinya.
2. Analisis transaksional
Konselor menganalisis pola transaksi dalam kelompok, sehingganya konselor dapat mengetahui ego state yang mana yang lebih dominan dan apakah ego state yang ditampilkan tersebut sudah tepat atau belum.
3. Analisis permainan
Konselor menganalisis suasana permainan yang diikuti oleh klien untuk mendapat sentuhan, setelah itu dilihat apakah kline mampu menanggung resiko atau malah bergerak kearah resiko yang tingkatnya lebih rendah.
4. Analisis naskah hidup
Hal ini dilakukan apabila konselor sudah meyakini bahwasanya kliennya terjangkiti posisi hidup yang tidak sehat.


Teknik Terapi

1. Permission
Memperbolehkan klien melakukan apa yang tidak boleh dilakukan oleh orang tuanya
2. Protection
Melindungi klien dari ketakutan karena klien disuruh melanggar terhadap peraturan orang tuanya.
3. Potency
Mendorong klien untuk menjauhkan diri klien dari injuction yang diberikan orang tuanya.
4. Operation
a). Interrogation
Mengkonfrontasikan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada diri klien sehingganya berkembang respon adult dalam dirinya.
b). Specification
Mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingganya klien paham tentang ego statenya.
c). Confrontation
Menunjukkan kesenjangan atau ketidak beresan pada diri klien
d). Explanation
Transaksi adult-adult yang terjadi antara konselor dengan klien untuk menejlaskan mengapa hal ini terjadi (konselor mengajar klien)
e). Illustration
Memberikan contoh pengajaran kepada klien agar ego statenya digunakan secara tepat.
f). Confirmation
Mendorong klien untuk bekerja lebih keras lagi.
g). Interpretation
Membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah lakunya
h). Crystallization
Menjelaskan kepada klien bahwasanya klien sudah boleh mengikuti games untuk mendapatkan stroke yang diperlukannya.



https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=analisis%20transaksional%20unsur%20teknik&source=web&cd=7&ved=0CDoQFjAG&url=http%3A%2F%2Fstaff.uny.ac.id%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles%2Fpendidikan%2FSugiyanto%2C%2520M.Pd.%2F14.%2520Bahan%2520Ajar%25206%2520konseling%2520TA.PDF&ei=n0pCVeKSD42SuASPw4GYCg&usg=AFQjCNFy9Uub3aXVlNg0seGjYv-uKzt8Mw&bvm=bv.92189499,d.c2E

Taufik. 2009. Model-model konseling. Padang: Jurusan BK FIP UNP

Category: 0 comments

Psikoterapi. Tugas 2

Perbedaan Psikoterapi dan Konseling

- Menurut Trotzer dan Trotzer (dalam Kertamuda, 2010), menjelaskan bahwa psikoterapi seringkali melakukan hubungan (relasi) untuk jangka waktu yang panjang (misalnya 20 sampai 40 sesi selama lebih dari 6 bulan hingga 2 tahun) dan juga terfokus pada perubahan perilaku. Sedangkan konseling lebih pada tujuan jangka pendek, yaitu antara 8-12 sesi yang terbagi ke dalam beberapa bulan dan terfokus kepada menemukan jalan keluar dari masalah.

- Menurut Leona Tylor (dalam Kertamuda, 2010), Konseling lebih menekankan pada menolong individu untuk menggunakan potensinya semaksimal mungkin agar dapat menyelesaikan diri dengan lingkungannya. Sedangkan psikoterapi biasanya dihunakan untuk pembenahan (reconstruktive) karena ada perubahan di dalam struktur kepribadian.

- Menurut Vance & Volksky (dalam Kertamuda, 2010), mengemukakan bahwa konseling diperuntukan bagi individu yang normal, masalahnya mengenai perkembangan yang alami. Sedangkan psikoterapi lebih kepada individu yang mengalami deviasi (tidak normal atau penyimpangan psikis).

Perbandingan antara konseling dan psikoterapi menurut Thomson, et.al., (dalam Komalasari, dkk. 2011) :

Konseling
1. Konseli atau klien
2.  Masalah yang ringan
3. Masalah pribadi, sosial, pekerjaan, pendidikan, dan pengambilan keputusan
4.   Bersifat mencegah dan memberi perhatian pada perkembangan
5. Pada setting pendidikan dan perkembangan
6. Berada pada area kesadaran (conscious)
7. Menggunakan metode pengajaran

Psikoterapi
1. Pasien
2. Gangguan yang serius
3. Gangguan kepribadian
4. Bersifat remedial
5.  Pada setting klinis dan medis
6. Berada pada area ketidaksadaran (unconcious)
7. Menggunakan metode penyembuhan

Kemudian, dikutip uraian dari Brammer & Shostrom (1977) mengemukakan bahwa :
1.Konseling ditandai dengan adanya terminologi seperti : “educational. Vocational, supportive, situational, psoblem solving, conscious, awerness, normal, present-tome, dan short-time”
2. Sedangkan psikoterapi ditandai oleh: “ supportive, roconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe wmotional problems and long term”



 Bentuk – Bentuk Utama Terapi

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, psikoterapi dibedakan atas (dalam Elvira, 2007), yaitu :
1. Psikoterapi Suportif :  Bertujuan untuk mendukung fungsi-fungsi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada, memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik, perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif. Pendekatannya dengan cara bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan dan terapi kelompok.

2. Psikoterapi Reedukatif : Bertujuan untuk mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan. Pendekatan dengan cara terapi perilaku, terapi kelompok. terapi keluarga, psikodarma, dll.

3. Psikoterapi Rekonstruktif : Bertujuan untuk dicapainya insight akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapau perubahan luas struktur kepribadian seseorang. Pendekatan dengan cara psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Fromm, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.



Referensi:

Kertamuda, F. (2010). Konseling: Teori dan KeterampilanDasar. Jakarta: Universitas Paramadina

Komalasari, Wahyuni & Karsih. (2011). Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT. INDEKS

Lubis, D. B. & Elvira, S. D. (2005). Penuntun Wawancara Psikodinamik dan Psikoterapi. Balai Penerbit FKUI

https://books.google.co.id/books?id=-vjvjGDxJi4C&pg=PA85&lpg=PA85&ots=nycqOe0_1l&focus=viewport&dq=perbedaan+psikoterapi+dan+konseling&output=html_text


Category: 0 comments

Psikoterapi. Tugas 1

Pengertian Psikoterapi

Psikoterapi yang lahir pada pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni "psyhemind" atau sederhananya : jiwa dan "therapy" dari Bahasa Yunani yang berarti "merawat" atau "mengasuh". Sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah "perawatan terhadap aspek kejiwaan" seseorang.
Dalam Oxford English Dictionary, ada perkataan "psychotherapeutic' yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis.
Seperti :
1. Jika seseorang memiliki kompetensi ilmiah secara terapis, mengulang-ulang apa yang di ucapkan klien atau pasien [Rogerian]
2. Atau jika terapis menunjukan kesalahan pada dasar dari gaya hidup seseorang [Adlerian]
3. Atau seorang terapis yang mengajukan sesuatu yang berlawanan dari apa yang di kemukakan oleh klien atau pasien [Rasional-emotif terapi]

Kegiatan-kegiatan di atas merupakan beberapa contoh yang ternyata mempengaruhi kondisi psikis dan kepribadian seseorang sehingga terjadi perubahan. Itulah yang di maksud dengan intervensi psikis dan itulah psikoterapi, sekalipun memiliki berbagai macam teknik dan metode di lakukan secara berlainan karena disesuaikan dengan paham dasar dan konsepsi tentang manusia yang di anut.

Sesuai menurut Watson & Morse tahun 1977 (dalam Singgih D. Gunarsa 1996), Psikoterapi dirumuskan sebagai bentuk khusus dari interaksi antara dua orang pasien dan terapis, pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupan dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya.


Tujuan Psikoterapi

1. Mengubah perilaku yang tidak diinginkan

2. Mencari "growth experience"

3. Mengubah perilaku yang menyebabkan klien merasa tidak bahagia

4. Rekonstruksi karakter dan kepribadian

5. Klien dapat melakukan kontrol diri lebih baik


Adapula tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah: Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadianya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konfik-konflik yang lama..
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuskan sebagai : Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.


Unsur - Unsur Psikoterapi

 

1. Dua individu saling terikat dalam interaksi yang bersifat rahasia, dimana klien akan dibukakan jalan untuk menjadi tahu,

2. Interaksi umumnya terbatas pada pertukaran verbal.

3. Interaksi berlangsung dalam jangka waktu lama.

4. Hubungan bertujuan untuk mengubah perilaku tertentu pada klien, yang telah disetujui oleh kedua pihak.



Gunarsa, Singgih D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Corey, G. (2005). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
https://books.google.co.id/books?







Category: 0 comments
Komunikasi dalam Manajemen
A. Definisi Komunikasi
Pengertian komunikasi diekstrak dari bahasa latin yaitu "communicatio", yang ber istilah "communis" yang berarti menciptakan kebersamaan antara dua orang atau lebih. Dalam kehidupan kita selain menjadi makhluk individu, kita juga sebagai makhluk sosial yang sangat membutuhkan interaksi dengan orang lain. Nah dari interaksi itulah terjadi sebuah komunikasi untuk menyampaikan sesuatu, saling bertukar pendapat dengan orang lain untuk mencapai sebuah tujuan. Pengertian komunikasi itu sendiri menurut para pakar komunikasi mengacu pada aktivitas hubungan manusia yang biasa terjadi secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dibawah ini merupakan beberapa pengertian komunikasi menurut para pakar komunikasi diantaranya:
Menurut Everett M. Rogers, mengemukakan pendapatnya yaitu Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerimaan atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka "
Lantas pendapat lain dari  Rogers & O'lawrence Kincaid, Komunikasi merupakan suatu interaksi dimana terdapat dua orang atau lebih yang sedang membangun atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lain yang pada akhirnya akan tiba dimana mereka saling memahami dan mengerti "
Dan menurut Theodore M. Newcomb,  " Setiap bentuk komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi, yang terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber untuk penerima "
Dari pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa komunikasi bisa terjadi karena adanya beberapa unsur yang terkait untuk membangun sebuah komunikasi. Berikut ini unsur pembangun komunikasi :
-Sumber
Yaitu pusat informasi atau pengirim informasi. Komunikasi yang terjadi pada kita, bisa dari satu orang atau lebih (kelompok)misalnya sebuah organisasi, perkumpulan dsb. Sumber komunikasi disebut juga komunikator.
-Penerima
Yaitu pihak dimana ia menjadi tujuan untuk dikirimi pesan atau info oleh sumber (komunikator). Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih. Penerima juga bisa disebut komunikan.
-Pesan
Adalah informasi yang disampaikan oleh pengirim pesan kepada penerima (komunikan). Pesan tersebut bisa disampaikan dengan secara langsung atau melalui media komunikasi yang tersedia.
-Media
Yaitu alat yang digunakan dalam berkomunikasi untuk mengirim pesan (informasi) dari sumber kepada penerima.
-Efek
Yaitu sebuah pengaruh yang dipikirkan dan dirasakan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Yang kemudian akan mempengaruhi sikap seseorang dalam menelaah pesan.
-Umpan Balik
Yaitu sebuah bentuk tanggapan balik dari penerima setelah memperoleh pesan yang diterima.
Pada unsur komunikasi yang telah dijelaskan bahwa pihak yang mengirim pesan kepada khalayak disebut komunikator. Sebagai pelaku dalam proses komunikasi, komunikator memegang peranan yang amat penting terutama dalam berjalannya sebuah komunikasi. Sehingga pesan tersebut diterima oleh penerima (komunikan) dengan baik.
Berikut adalah contoh-contoh fungsi komunikasi dalam kehidupan kita sehari-hari menurut para ahli :
Menurut Thomas M. Scheidel, " Manusia pada umumnya berkomunikasi untuk menyatakan dan mendukung identitas-diri dan untuk membangun interaksi sosial dengan orang-orang yang berada di sekitar kita serta untuk mempengaruhi orang lain untuk  berpikir, merasa, atau bertingkah seperti yang kita harapkan"
Menurut Rudolf F. Verderber, " Komunikasi mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi social, yakni untuk tujuan kesenangan, untuk menunjukan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan. Kedua, fungsi pengambilan keputusan, yakni memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada saat tertentu".

B. Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah bagaimana sang komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses Komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yag efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses Komunikasi, banyak melalui perkembangan. Pada penjelasan ini, akan dijelaskan berbagai proses komunikasi melalui model-model komunikasi itu sendiri :
1.1Model Komunikasi Aristoteles
Aristoteles menerangkan tentang model komunikasi dalam bukunya Rhetorica, bahwa setiap komunikasi akan berjalan jika terdapat 3 unsur utama :
1. Pembicara, yaitu orang yang menyampaikan pesan
2. Apa yang akan dibicarakan (menyangkut Pesan nya itu sendiri)
3. Penerima, orang yang menerima pesan tersebut.

1.2 Model Komunikasi David K.Berlo
Dalam model komunikasi David K.Berlo, diketahui bahwa komunikasi terdiri dari 4 Proses Utama yaitu SMRC (Source, Message, Channel, dan Receiver) lalu ditambah 3 Proses sekunder, yaitu Feedback, Efek, dan Lingkungan.
1. Source (Sumber), Sumber adalah seseorang yang memberikan pesan atau dalam komunikasi dapat disebut sebagai komunikator. Walaupun sumber biasanya melibatkan individu, namun dalam hal ini sumberjuga melibatkan banyak individu. Misalnya, dalam organisasi, Partai, atau lembaga tertentu. Sumber juga sering dikatakan sebagai source, sender, atau encoder.
2. Message (Pesan), pesan adalah isi dari komunikasi yang memiliki nilai dan disampaikan oleh seseorang (komunikator). Pesan bersifat menghibur, informatif, edukatif, persuasif, dan juga bisa bersifat propaganda. Pesan disampaikan melalui 2 cara, yaitu Verbal dan Nonverbal. Bisa melalui tatap muka atau melalui sebuah media komunikasi. Pesan bisa dikatakan sebagai Message, Content, atau Information
3. Channel (Media dan saluran komunikasi), Sebuah saluran komunikasi terdiri atas 3 bagian. Lisan, Tertulis, dan Elektronik. Media disini adalah sebuah alat untuk mengirimkan pesan tersebut. Misal secara personal (komunikasi interpersonal), maka media komunikasi yang digunakan adalah panca indra atau bisa memakai media telepon, telegram, handphone, yang bersifat pribadi. Sedangkan komunikasi yang bersifat massa (komunikasi massa), dapat menggunakan media cetak (koran, suratkabar, majalah, dll) , dan media elektornik(TV, Radio). Untuk Internet, termasuk media yang fleksibel, karena bisa bersifat pribadi dan bisa bersifat massa. Karena, internet mencakup segalanya
Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antarmanusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi. Tahapan proses komunikasi adalah sebagai berikut :
-Penginterpretasian
-Penyandian
-Pengiriman
-Perjalanan
-Penerimaan
-Penyandian balik
-Penginterpretasian

C. Hambatan Dalam Komunikasi
Hambatan dalam komunikasi bisa terjadi karena hambatan komunikator dalam memberikan pesan atau hambatan pada komunikasi yaitu komunikator (sender), pesan dan komunikan (receiver). Komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan simbol verbal, non verbal atau keduanya. Orang komunikasi melalui :simbol bicara, tulisan, informal gestures, sistematized gestures (bahasa isyarat dan abjad jari),gambar,semapur,braile. Akan terjadi pada komunikator dalam memberikan pesan (ekspresif) atau hambatan pada komunikan dalam memahami pesan yang disampaikan komunikator (reseptif).
ASHA (the American Speech-Language-HearingmAssosiation) Kirk & Gallagher (1989:246-247) Komunikasi sebagai gangguan dalam pengucapan, bahasa, suara, atau kelancaran dan gangguan pendengaran akan menghambat perkembangan, performance, atau pembentukan artikulasi, bahasa, suara atau kelancaran Akan membawa pengaruh terhadap perilaku komunikasi dalam memperoleh bicara dan bahasa. Gangguan kepada individu sebagai sender (pembicara,penulis) menghasilkan pesan yang tidak sesuai dengan aturan bahasa, usia dan kultur Ketika penerima (receiver) reseptif mendengar dan membaca tidak mampu memahami unit-unit, bentuk atau isi pesan.
Gangguan dalam penggunaan bahasa ekspresif yang terjadi saat seseorang menjalin komunikasi untuk mengungkapkan perasaan, ide-ide (yang bersifat menyatakan). Cirinya : berbicara, berisyarat, berejaan jari, menulis, mimik gesti.
Gejala gangguan bahasa ekspresif yaitu menggunakan kata- Kata pendek dan kalimat sederhana, membuat kesalahan dalam tata bahasa, kosa katanya minimal/ kurang memadai, kesulitan dalam menceriterakan atau mengingat kembali informasi, ketidakmampuan memulai percakapan, ketidakmampuan bicara langsung ke persoalan dsb.
Gangguan bicara yaitu gangguan artikulasi (articulation Disorder), gangguan suara (Voice or Phonation Disorder), gangguan kelancaran Bicara (Fluency Disorder), gangguan irama (Rhythm Disorder), Gangguan Artikulasi (articulation Disorder). Serta gangguan artikulasi adalah proses pembentukan bunyi-bunyi, suku kata dan kata-kata. Seseorang memiliki masalah dalam artikulasi apabila ia memproduksi suara-suara, suku kata dan kata-kata secara tidak tepat/benar sehingga sulit dipahami apa yang diucapkan. Klasifikasi gangguan bahasa dihubungkan dengan dimensi bahasa oral:
1. gangguan fonologi, membedakan bunyi bahasa dan (G.artikulasi) mengucapkan huruf.
2. gangguan morfologi, yaitu struktur dan bentuk kata
3. gangguan sintaksis, yaitu pemahaman dan pengucapan kalimat
4. gangguan semantik, yaitu pemahaman kata
5. ganggua pragmatik, yaitu penggunaan bahasa dalam berkomunikasi
Tidak nampak mendengarkan ketika ditegur, ketidakmampuan memahami kalimat secara utuh, ketidakmampuan untuk mengikuti perintah secara verbal, parroting kata atau ucapan (echolalia), keterampilan bahasanya rendah di bawah usianya.
Media
Hambatan teknis, misalnya masalah pada teknologi komunikasi (microphone, telepon, power point, dan lain sebagainya). Hambatan geografis, misalnya blank spot pada daerah tertentu sehingga signal HP tidak dapat ditangkap. Hambatan simbol/ bahasa, yaitu perbedaan bahasa yang digunakan pada komunitas tertentu. Misalnya kata-kata “wis mari” versi orang Jawa Tengah diartikan sebagai sudah sembuh dari sakit sedangkan versi orang Jawa Timur diartikan sudah selesai mengerjakan sesuatu. Hambatan budaya, yaitu perbedaan budaya yang mempengaruhi proses komunikasi.
Komunikator
Hambatan biologis, misalnya komunikator Hambatan psikologis, misalnya komunikator yang gugup. Hambatan gender, misalnya perempuan tidak bersedia terbuka terhadap lawan bicaranya yang laki-laki.
Komunikate
Hambatan biologis, misalnya komunikate yang tuli. Hambatan psikologis, misalnya komunikate yang tidak berkonsentrasi dengan pembicaraan. Hambatan gender, misalnya seorang perempuan akan tersipu malu jika membicarakan masalah seksual dengan seorang lelaki.

D. Definisi Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak lain untuk mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face) maupun dengan media. Berdasarkan definisi ini maka terdapat kelompok maya atau faktual (Burgon & Huffner, 2002). Contoh kelompok maya, misalnya komunikasi melalui internet (chatting, face book, email, etc.). Berkembangnya kelompok maya ini karena perkembangan teknologi media komunikasi.
Terdapat definisi lain tentang komunikasi interpersonal, yaitu suatu proses komunikasi yang bersetting pada objek-objek sosial untuk mengetahui pemaknaan suatu stimulus (dalam hal ini: informasi/pesan) (McDavid & Harari).


http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196505161994021-ASEP_SARIPUDIN/Hambatan_Reseptif_dan_Ekspresif.pdf
Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.(1998). Pengantar Ilmu komunikasi. Jakarta : RajaGrafindo Persada (Rajawali Perss)
http://www.seputarpengetahuan.com/2014/08/100-macam-pengertian-komunikasi-menurut.html
http://tyoset.blogspot.com/2012/01/proses-komunikasi.html
http://www.psikologizone.com/definisi-komunikasi-interpersonal/06511922


Pelatihan dan Pengembangan
A. Definisi Pelatihan
Definisi pelatihan menurut Veithzal Rivai (2004 : 226) adalah sebagai berikut:
”Pelatihan adalah secara sistematis mengubah tingkah laku karyawan untuk mencapai tujuan organisasi.”
Menurut Barry Chusway (1997:114) tentang pengertian pelatihan sebagai berikut :
“Pelatihan adalah proses mengajarkan keahlian dan memberikan pengetahuan yang perlu, serta sikap supaya mereka dapat melaksanakan tanggung jawabnya sesuai dengan standar”.
 Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pelatihan itu adalah proses sistematis pengubahan perilaku para karyawan dalam suatu arah guna meningkatkan tujuan-tujuan organisasional.

B. Tujuan dan Sasaran Pelatihan dan Pengembangan
Menurut Sikula,1976 (dalam Munandar 2008), tujuan dari pelatihan dan pengembangan secara umum sebagai berikut :
Meningkatkan produktivitas
Pelatihan pengembangan diberikan pada tenanga kerja baru dan tenaga kerja lama. Pelatihan dapat meningkatkan taraf prestasi tenaga kerja pada jabatannya sekarang. Prestasi kerja yang meningkat mengakibatkan peningkatan dari produktivitas. Meningkatkan mutu Tenaga kerja yang berpengetahuan dan berketerampilan baik hanya akan membuat sedikit kesalahan dan cermat dalam pelaksanaan pekerjaan.
Meningkatkan ketepatan
Dalam perencanaan sumber daya manusia Pelatihan dan pengembangan yang tepat dapat membantu perusahaan untuk memenuhi keperluannya akan tenaga kerja dengan pengetahuan dan keterampilan tertentu di masa yang akan datang. Jika suatu saat diperlukan, maka lowongan yang ada dapat secara mudah diisi oleh tenaga dari dalam perusahaan sendiri.
Meningkatkan semangat kerja Iklim dan suasana organisasi
Pada umumnya menjadi lebih baik jika perusahaan mempunyai program pelatihan yang tepat. Suatu rangkaian reaksi positif dapat dihasilkan dari program pelatihan perusahaan yang direncanakan dengan baik.
Menarik dan menahan tenaga kerja yang baik
Para manajer memandang kemungkinan untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan sebagai bahan dari imbalan jasa dari perusahaan kepada mereka. Mereka berharap perusahaan membayar program pelatihan yang mengakibatkan mereka bertambah pengetahuan dan keterampilan dalam keahlian mereka masing-masing. Karena itu banyak perusahaan yang menawarkan program pelatihan dan pengembangan yang khusus untuk menarik tenaga kerja yang berpotensi baik.
Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja
Pelatihan yang tepat dapat membantu menghindari timbulnya kecelakaan di perusahaan dan dapat menimbulkan lingkungan kerja yang lebih aman dan sikap mental yang lebih stabil.
Menghindari keusangan
Usaha pelatihan dan pengembangan diperlukan secara terus-menerus supaya para tenaga kerja dapat mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang kerja mereka masing-masing.
Menunjang pertumbuhan pribadi
Pelatihan dan pengembangan tidak hanya unutk menguntungkan perusahaan tetapi juga menguntungkan tenaga kerja sendiri.

C. Faktor Psikologi dalam Pelatihan dan Pengembangan
menurut John Miner (1992) dalam bukunya Industrial-Organizational Psychology, peran psikologi dalam pelatihan dan pengembangan adalah
1. Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada produktivitas : melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja, meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas karyawan.
2. Terlibat dalam proses output: melakukan penilaian kinerja, mengukur produktivitas perusahaan, mengevaluasi jabatan dan kinerja karyawan.
3. Terlibat dalam proses input : melakukan rekrutmen, seleksi, dan penempatan karyawan.
4. Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada pemeliharaan: melakukan hubungan industrial (pengusaha-buruh-pemerintah), memastikan komunikasi internal perusahaan berlangsung dengan baik, ikut terlibat secara aktif dalam penentuan gaji pegawai dan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya, pelayanan berupa bimbingan, konseling dan therapi bagi karyawan-karyawan yang mengalami masalah-masalah psikologis.

D.Teknik dan Metode Pelatihan
a. Metode On-the-Job
-Pelatihan Instruksi Kerja: Karyawan langsung belajar menjalankan pekerjaannya saat ini. Yang menjadi instruktur bisa pelatih khusus, atasan/supervisor, atau rekan kerja yang berpengalaman.
-Rotasi Jabatan: Karyawan berpindah-pindah dari satu jabatan ke jabatan lainnya. Ini penting untuk membuat karyawan ahli dalam berbagai pekerjaan sehingga bisa cepat menggantikan karyawan lain yang cuti, absen, diberhentikan, atau mengundurkan diri.
-Magang dan Coaching: Dengan magang karyawan belajar pada karyawan lain yang lebih berpengalaman, meskipun bisa juga dikombinasikan dengan pelatihan di kelas di luar jam kerja. Coaching mirip dengan magang karena seorang coach (pembimbing) berusaha memberi contoh untuk ditiru karyawan yang sedang dilatih (trainee). Coaching biasanya dilakukan langsung oleh supervisor atau manajer dari karyawan yang bersangkutan.
b. Metode Off-the-Job
-Ceramah dan Presentasi Video: Ceramah dan metode off-the-job lainnya lebih mengandalkan komunikasi dibandingkan contoh. Ceramah adalah cara yang populer karena relatif murah dan bisa mengatur bahan belajar untuk disampaikan dengan baik. Namun, partisipasi, umpan balik, kecepatan transfer, dan pengulangannya seringkali rendah. Hal ini bisa diatasi dengan menyisipkan sesi diskusi dalam ceramah. Presentasi melalui televisi, film, dan slide mirip dengan ceramah, bahkan hal tersebut bisa lebih menarik bagi peserta pelatihan.
-Vestibule Training: Vestibule training adalah pelatihan yang menggunakan tiruan dari situasi kerja yang sesungguhnya, misalnya menggunakan tiruan bank, rumah sakit, hotel, dan sebagainya.
-Role Playing dan Behavior Modeling: Dalam role playing (bermain peran) para karyawan mencoba memainkan peran tertentu yang ada dalam situasi kerja yang nyata. Misalkan saja ada karyawan yang memainkan peran manajer yang sedang memberi saran kepada bawahannya, dan ada karyawan yang memerankan bawahan tersebut. Dalam behavior modeling para karyawan berusaha meniru perilaku kerja tertentu sampai mereka benar-benar menguasai. Rekaman video bisa membantu para karyawan untuk mengamati perilaku mereka sendiri dan memperoleh umpan balik untuk penyempurnaan.
-Studi Kasus: Dengan studi kasus para karyawan mempelajari situasi nyata atau rekaan yang bisa terjadi dalam pekerjaan mereka. Di sini mereka bisa meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
-Simulasi: Simulasi biasanya menggunakan mesin canggih yang bisa memunculkan situasi kerja yang nyata. Mesin itu disebut simulator, misalnya saja ada simulator pesawat terbang, kapal laut, kereta api, dan sebagainya. Ada pula simulator yang berupa program komputer yang bisa mensimulasikan strategi-strategi dalam bekerja, misalnya strategi bisnis, olah raga, dan sebagainya.
-Belajar Mandiri dan Pembelajaran Terprogram: Para karyawan bisa mempelajari sendiri pekerjaannya dengan bantuan bahan-bahan instruksional yang dirancang sedemikian rupa. Cara ini sangat berguna jika posisi karyawan tersebar secara geografis sehingga sulit mengumpulkan mereka pada satu lokasi. Dengan perkembangan komputer, cara ini menjadi lebih mudah karena para karyawan bisa lebih cepat memperoleh umpan balik dan panduan melalui program komputer yang dirancang sedemikian rupa untuk menyampaikan materi yang bisa dipelajari sendiri oleh para karyawan.
-Pelatihan Laboratorium: Dalam pelatihan laboratorium para karyawan berbagi pengalaman, perasaan, dan persepsi sehingga di sini mereka bisa meningkatkan kemampuan interpersonalnya.
-Action Learning: Dalam action learning sekelompok kecil karyawan harus memecahkan sebuah masalah nyata yang terjadi dalam organisasi. Mereka dibantu oleh seorang fasilitator yang bisa seorang konsultan dari luar atau staf internal organisasi.
-Business game (permainan bisnis): adalah metode pelatihan dan pengembangan yang memungkinkan para peserta untuk mengambil peran-peran seperti presiden, controller, atau vice president pemasaran dari dua organisasi bayangan atau lebih dan bersaing satu sama lain dengan memanipulasi faktor-faktor yang dipilih dalam suatu situasi bisnis tertentu.

Teknik yang digunakan dalam praktek:
Rotasi Jabatan, memberikan kepada karyawan pengetahuan tentang bagian-bagian organisasi yg berbeda dan praktek berbagai macam keterampilan managerial.
Latihan Instruksi Pekerjaan, petunjuk-petunjuk pekerjaan diberikan secara langsung pada pekerjaan dan digunakan terutama untuk melatih para karyawan tentang cara pelaksanaan pekerjaan mereka sekarang.
Magang (Apprenticeships), merupakan proses belajar dari seseorang atau beberapa orang yang lebih berpengalaman (kombinasi off-the-job). Hampir semua karyawan pengrajin, tukang kayu dan ahli pipa/tukang ledeng, dilatih dengan magang.
Coaching, kepada karyawan dalam pelaksanaan kerja rutin mereka. Hubungan penyelia dan karyawan sebagai bawahan serupa dengan hubungan tutor – mahasiswa.
Penugasan Sementara, penempatan karyawan pada posisi manajerial atau sebagai anggota panitia tertentu untuk jangka waktu yg ditetapkan. Karyawan terlibat dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah-masalah organisasional nyata.


http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=34193
http://www.scribd.com/mobile/doc/172387423?width=602
http://www.e-psikologi.com/artikel/organisasi-industri/peran-psikologi-dalam-perusahaan
http://www.mdp.ac.id/materi/2012-2013-2/si404/121074/si404-121074-962-5.ppt

Category: 0 comments

Kasus mengenai kepuasan kerja

Miliarder Ini Bisa Beri Makan Seluruh Penduduk Dunia? Miliarder asal Amerika Serikat (AS), Harry Stine, seolah telah menjadi raja di bidang pertanian dunia. Pria berusia 72 tahun ini merupakan pemilik  perusahaan benih swasta terbesar di dunia, Stine Seed.

Seperti dikutip dari Forbes, Jumat (28/3/2014), AS tercatat sebagai jantung pengembangan teknologi pertanian di dunia dengan peningkatan paling mengesankan di sektor tersebut. Sementara  bicara soal inovasi di bidang pertanian, Stine memang tiada duanya.

Dia merupakan salah satu miliarder yang diharapkan dapat memasok benih dan pupuk ke seluruh dunia guna mempertahankan pasokan pangan lobal. Sementara itu, melalui perkembangan teknologi, pasar benih dunia diprediksi meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan mengingat banyak tanaman direkayasa dengan genetika yang lebih tangguh.

Kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil dan efisiensi di bidang pertanian guna memenuhi kebutuhan masyarakat dunia. Tentu saja, itu merupakan kabar baik bagi 85 juta penduduk dunia di tengah kondisi lahan pertanian terus berkurang.

Berbicara soal Stine, sejak 1987, dia membangun sebuah menara di dekat rumahnya guna mengawasi kerajaan pertaniannya yang terbentang luas. Pria empat anak ini memang mengelola lahan pertanian seluas 15 ribu hektare  di dekat tempat tinggalnya di Iowa.

Sejauh ini, pria pemilik total kekayaan sebesar US$ 2,9 miliar tersebut, telah mengembangkan sejumlah produk pertanian paling berharga di muka bumi. Dengan lebih dari 900 hak paten pada sejumlah benih di dunia, Stine telah menjual benih  kedelai dan jagung dengan kualitas genetika terbaik.

Benih-benih tersebut dipasok ke sejumlah pelaku usaha pertanian besar seperti Monsanto dan Syngenta. Penjualannya mampu menembus angka US$ 1 miliar dengan marjin yang hanya 10% setiap tahunnya.

Selama 30 puluh tahun terakhir, Stine Seed telah memproduksi banyak bibit unggulan di bidang pertanian. Bahkan teknik pertanian tradisional yang dipadukan dengan teknologi masa kini mampu mencetak benih kedelai terbaik di dunia.

"Basis genetika bibit (tanaman pangan) kami merupakan yang terbaik di dunia. Kami mendominasi campuran genetika dalam industri ini," tandas Stine.

http://bisnis.liputan6.com/read/2029018/miliarder-ini-bisa-beri-makan-seluruh-penduduk-dunia


Keberhasilan Harry Stine menjadi seorang miliader ini yang merupakan seorang petani, menjadikan pelajaran berharga bagi pembacanya. Memberikan gambaran agar dapat lebih menggali lagi potensi diri di bidang apakah seharusnya seseorang bekerja. Masih banyak orang memaksakan diri demi untuk mendapatkan gaji yang berlimpah secara instan ketika hendak mengambil suatu pekerjaan. Namun sebenarnya tidak sesuai sama sekali dengan minat dan bakat yang di miliki. Stine membuktikan bahwa minat dan bakat yang sederhana tidak muluk-muluk justru malah menghasilkan progress besar bagi Stine dan banyak orang di sekitarnya. Karna keputusannya memilih bekerja sebagai petani ini di kembangkan dengan sepenuh hati maka ide-ide cemerlang yang memuaskan hati terlaksanakan.

Dalam kasus Stine ini termasuk ke dalam salah satu aspek kepuasan kerja menurut Robbins (1998) yaitu, kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan. Merupakan hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya sama dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan lebih memungkinkan untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari pekerjaan mereka. Juga kepuasan kerja menurut Berry (1998), yaitu sikap kerja yang meliputi elemen kognitif, afektif, dan perilaku, yang diperkirakan memberi pengaruh pada sejumlah perilaku kerja. Kepuasan Stine di sektor pertanian di tunjang dengan selalu menambah pengetahuan merupakan hal yang rutin dilakukan. Tidak hanya sekedar ingin tahu, Stine juga tidak malu meminta bantuan sejumlah ahli di Lowa University untuk mengembangkan bibit unggulnya. Maka Stine berhasil atas penelitiannya hingga dapat mematenkan hak cipta varietas beberapa produk miliknya seperti kedelai yang terbaik di akui dunia.

Kesuksesan seseorang yang sesungguhnya bisa di capai ketika seseorang dapat memaksimalkan minat dan bakatnya secara sungguh-sungguh. Menambah lebih banyak pengetahuan, berani, disertai dengan pola hidup disiplin. berikut kiat-kiatnya dapat di lihat disini •http://bisnis.liputan6.com/read/2095622/• Jika sudah terealisasikan, pundi-pundi tersebut akan datang menghampiri sejalan dengan semestinya di bandingkan fokus pada ambisi yang berlebihan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang nantinya akan berdampak buruk.
Category: 0 comments
Transparent Sexy Pink Heart