INTERNET ADDICTION (KECANDUAN INTERNET)
Internet
addiction merupakan
suatu gangguan psikofisiologis yang meliputi tolerance
(penggunaan dalam jumlah yang
sama akan menimbulkan respon minimal, jumlah
harus ditambah agar dapat
membangkitkan kesenangan dalam jumlah yang sama),
whithdrawal
symptoms (khususnya
menimbulkan termor, kecemasan, dan perubahan
mood), gangguan afeksi
(depresi, sulit menyesuaikan diri), dan terganggungnya
kehidupan sosial (menurun atau
hilang sama sekali, baik dari segi kualitas maupin
kuantitas).
Internet
addiction diartikan
sebagai sebuah sindrom yang ditandai dengan
menghabiskan sejumlah waktu yang
sangat banyak dalam menggunakan internet dan
tidak mampu mengontrol
penggunaannya saat online. Orang-orang yang
menunjukkan sindrom ini akan
merasa cemas, depresi, atau hampa saat tidak online di
internet dalam. Berdasarkan
pengertian-pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
internet
addiction adalah
penggunaan internet yang bersifat patologis, yang ditandai
dengan ketidakmampuan individu
untuk mengontrol waktu menggunakan internet,
merasa dunia maya lebih menarik
dibandingkan kehidupan nyata, dan mengalami
gangguan dalam hubungan
sosialnya.
Internet Addiction
Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet meliputi segala macam hal yang
berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, pornografi, judi
online, game online, chatting dan lain-lain. Jenis gangguan ini memang tidak
tercantum pada manual diagnostik dan statistik gangguan mental, atau yang biasa
disebut dengan DSM, namun secara bentuk dikatakan dekat dengan bentuk kecanduan
akibat judi, selain itu badan himpunan psikolog di Amerika Serikat secara
formal menyebutkan bahwa kecanduan ini termasuk dalam salah satu bentuk
gangguan. Adiksi terhadap internet terlihat dari intensi waktu yang digunakan
seseorang untuk terpaku di depan komputer atau segala macam alat elektronik
yang memiliki koneksi internet, dimana akibat banyaknya waktu yang mereka
gunakan untuk online membuat mereka tidak peduli dengan kehidupan mereka yang
terancam diluar sana, seperti nilai yang buruk disekolah atau mungkin
kehilangan pekerjaan dan bahkan meninggalkan orang-orang yang mereka sayangi.
Kriteria untuk mengetahui seseorang telah mengalami
adiksi terhadap internet diadaptasi dari kriteria-kriteria ketergantungan zat
seperti disebutkan di dalam DSM-IV, yaitu :
a. Toleransi, yang ditunjukkan dalam perilaku
sebagai berikut :
• Kebutuhan meningkatkan waktu penggunaan internet untuk mendapatkan kepuasan dan mengurangi efek keinginan terus-menerus memakai internet
• Secara nyata mengurangi efek keinginan tersebut dengan melanjutkan pemakaian internet dengan waktu yang sama terus menerus
• Kebutuhan meningkatkan waktu penggunaan internet untuk mendapatkan kepuasan dan mengurangi efek keinginan terus-menerus memakai internet
• Secara nyata mengurangi efek keinginan tersebut dengan melanjutkan pemakaian internet dengan waktu yang sama terus menerus
b. Withdrawal, yang termanifestasikan ke dalam salah
satu ciri-ciri berikut :
• Kesulitan untuk menghentikan atau mengurangi pemakaian internet, agitasi psikomotor, kecemasan, secara obsesif memikirkan tentang apa yang sedang terjadi di internet, fantasi atau mimpi tentang internet, sengaja atau tidak sengaja menggerakkan jari-jari seperti gerakan sedang mengetik dengan komputer.
• Pemakaian internet atau layanan online yang mirip untuk melepaskan diri atau menghindarkan diri dari simptom-simptom withdrawal.
• Kesulitan untuk menghentikan atau mengurangi pemakaian internet, agitasi psikomotor, kecemasan, secara obsesif memikirkan tentang apa yang sedang terjadi di internet, fantasi atau mimpi tentang internet, sengaja atau tidak sengaja menggerakkan jari-jari seperti gerakan sedang mengetik dengan komputer.
• Pemakaian internet atau layanan online yang mirip untuk melepaskan diri atau menghindarkan diri dari simptom-simptom withdrawal.
c. Sering menghabiskan waktu mengakses internet
lebih lama dari yang direncanakan (kehilangan orientasi waktu).
d. Gagal mewujudkan keinginan untuk mengurangi atau
mengontrol pemakaian internet.
e. Menghabiskan banyak waktu dengan
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan internet (misalnya membeli buku-buku
tentang internet, mencoba-coba browser WWW baru, dan mengatur material-material
hasil dari download).
f. Terganggunya kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan keluarga, lingkungan, pekerjaan akibat pemakaian internet.
g. Tetap menggunakan internet secara berlebihan
meskipun sudah memiliki pengetahuan mengenai dampak-dampak negatif dari
pemakaian internet secara berlebihan.
Zsolt
Demetrovics, et. al. (2008) mengembangkan kuisioner mengenai
internet addiction yang disebut PIUQ (Problematic Internet Use Questionnaire).
Faktor-faktor internet dalam kuisioner tersebut terbagi menjadi tiga kelompok
utama, yaitu:
a. Keterikatan mental dengan internet
Yang termasuk dalam kategori ini antara lain melamun, sering berfantasi tentang internet, menunggu kesempatan untuk ber-online lagi, di sisi lain, kecemasan, kekhawatiran, dan depresi karena kurangnya pemakaian internet.
a. Keterikatan mental dengan internet
Yang termasuk dalam kategori ini antara lain melamun, sering berfantasi tentang internet, menunggu kesempatan untuk ber-online lagi, di sisi lain, kecemasan, kekhawatiran, dan depresi karena kurangnya pemakaian internet.
b. Pengabaian aktivitas sehari-hari dan kebutuhan-kebutuhan dasar
Faktor ini adalah mengenai berkurangnya tingkat kepentingan urusan rumah tangga, pekerjaan, belajar, makan, hubungan sesama, dan aktivitas-aktivitas lain serta pengabaian aktivitas-aktivitas tersebut akibat peningkatan frekuensi pemakaian internet.
c. Kesulitan dalam mengontrol pemakaian internet
Yang termasuk dalam kategori ini adalah pemakaian internet yang lebih sering dan lebih lama dari yang sebelumnya direncanakan, disamping ketidakmampuan untuk mengurangi jumlah pemakaian internet.
Berikut ini adalah sub-sub tipe dari internet addiction menurut Kimberly S. Young, et. al. (2006):
a. Cybersexual Addiction
Termasuk ke dalam cybersexual addiction antara lain adalah individu yang secara kompulsif mengunjungi website-website khusus orang dewasa, melihat hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas yang tersaji secara eksplisit, dan terlibat dalam pengunduhan dan distribusi gambar-gambar dan file-file khusus orang dewasa.
b. Cyber-Relationship Addiction
Cyber-relationship addiction mengacu pada individu yang senang mencari teman atau relasi secara online. Individu tersebut menjadi kecanduan untuk ikut dalam layanan chat room dan seringkali menjadi terlalu-terlibat dalam hubungan pertemanan online atau terikat dalam perselingkuhan virtual.
c. Net compulsions
Yang termasuk dalam sub tipe net compulsions misalnya perjudian online, belanja online, dan perdagangan online.
d. Information Overload
Information overload mengacu pada web surfing yang bersifat kompulsif.
e. Computer Addiction
Salah satu bentuk dari computer addiction adalah bermain game komputer yang bersifat obsesif.
Ferris mengungkapkan penyebab seseorang
mengalami internet addiction dilihat dari
berbagai pandangan, yaitu:
1. Pandangan Behavioris
Menurut pandangan behavior,
internet addiction didasari oleh teori B.F
Skinner mengenai operant
conditioning, individu mendapatkan reward positif,
negatif, atau hukuman atas apa
yang dilakukannya.
2. Pandangan Psikodinamika dan
Kepribadian
Pandangan ini mengemukakan addiction
berkaitan antara individu tersebut
dengan pengalamannya. Tergantung
pada kejadian pada masa anak-anak yang
dirasakan individu tersebut saat
masih anak-anak dan kepribadiannya yang
terus berkembang, yang juga
mempengaruhi perkembangan suatu perilaku
addictive, ataupun yang
lainnya.
3. Pandangan Sosiokultural
Pandangan sosiokultural
menunjukkan ketergantungan ini tergantung pada ras,
jenis kelamin, umur, status
ekonomi, agama, dan negara.
4. Pandangan Biomedis
Pandangan ini menekankan pada
adanya faktor keturunan dan kesesuaian,
antara keseimbangan kimiawi
antara otak dan neurotrasmiter. Dimana pasien
ketergantungan obat-obatan yang
membutuhkan penyeimbangan zat kimia
pada otaknya, atau individu yang
memiliki kecenderungan terlibat dalam
perjudian.
Penelitian menunjukkan bahwa otak remaja yang kecanduan
internet memiliki 'materi putih' yang abnormal. Materi putih adalah lapisan
yang memisahkan dan mengelilingi kabel saraf antara sel-sel saraf. Namun belum
jelas apakah perbedaan ini dapat menyebabkan kecanduan internet atau justru
fenomena ini disebabkan oleh kecanduan internet. "Daerah materi putih yang
ditunjukkan dalam penelitian telah diketahui terlibat dalam perilaku kecanduan
dan kompulsif," kata Jonathan Wallis, profesor psikologi dan ilmu saraf di
University of California, Berkeley, yang mempelajari otak seperti dilansir
Healthday, Kamis (12/1/2012). Kecanduan internet telah diperdebatkan secara
luas dalam dunia kesehatan mental, terutama karena buku pegangan dan panduan
gangguan psikologis, 'The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
(DSM)' sedang direvisi. Beberapa ahli tidak setuju jika kondisi ini dimasukkan
dalam kategori kecanduan atau kategori lain.
Kecanduan internet juga menjadi topik panas di China. Para
peneliti di Universitas Jiao Tong dan Akademi Ilmu Pengetahuan China tergelitik
untuk lebih memahami isu ini. Para peneliti melakukan scan otak MRI terhadap 17
orang remaja yang diduga memiliki kecanduan internet.
Gejalanya antara lain, disibukkan dengan Internet, sudah
berulang kali mencoba mengontrol penggunaan internet namun gagal, merasa
gelisah, murung, depresi atau mudah tersinggung ketika mencoba mengurangi
penggunaan internet. Para peneliti membandingkan scan otak remaja tersebut
dengan 16 orang remaja yang tidak mengalami kecanduan internet pada usia dan
jenis kelamin yang sama.
Dalam laporan penelitian yang dimuat jurnal PLoS One, para
ilmuwan menemukan bahwa remaja yang mengalami kecanduan internet memiliki
kerusakan pada 'materi putih' nya. Kerusakan itu terjadi pada bagian otak yang
berfungsi dalam pengambilan keputusan.
"Materi putih adalah lapisan pemisah yang menyelubungi
kabel dan menghubungkan sel-sel otak atau neuron. Mereka terkoneksi secara
biologis dengan serat saraf seperti kabel pada peralatan elektronik, ada
lapisan pemisah yang menyelubungi kabel. Neuron mengandung lemak yang dapat
menghentikan muatan listrik agar tidak bocor keluar dari neuron," kata
Wallis.
"Kami tidak tahu apakah kurangnya materi putih yang menghubungkan daerah-daerah otak menjadi pemicu orang tidak bisa menahan keinginannya, atau apakah melakukan perilaku secara berulang-ulang dapat merusak koneksi antara daerah otak," imbuh Wallis.
"Kami tidak tahu apakah kurangnya materi putih yang menghubungkan daerah-daerah otak menjadi pemicu orang tidak bisa menahan keinginannya, atau apakah melakukan perilaku secara berulang-ulang dapat merusak koneksi antara daerah otak," imbuh Wallis.
Wallis berpendapat, rusaknya selubung tersebut mengganggu
komunikasi dalam otak sehingga seseorang berpikir perilakunya berharga dan
harus diulang lagi dan lagi. Kerusakan ini nampaknya menjadi kunci atas
berbagai jenis kecanduan.
Menurut Griffiths (2005) telah mencantumkan
enam dimensi untuk
menentukan apakah individu sudah
digolongkan sebagai pecandu internet. Dimensi
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Salience. Hal ini
terjadi ketika penggunaan internet menjadi aktivitas yang
paling penting dalam kehidupan
individu, mendominasi pikiran individu (preokupasi
atau gangguan kognitif), perasaan
(merasa sangat butuh), dan tingkah
laku (kemunduran dalam perilaku
sosial).
2. Mood modification.
Keterlibatan yang tinggi saat menggunakan internet.
Dimana terdapat perasaan senang
dan tenang (seperti menghilangkan stress)
saat perilaku kecanduan itu
muncul.
3. Tolerance. Merupakan
proses dimana terjadinya peningkatan jumlah
penggunaan internet untuk
mendapatkan efek perubahan dari mood. Demi
mencapai kepuasan, jumlah
penggunaan internet meningkat secara mencolok.
Kepuasaan yang diperoleh dalam
menggunakan internet secara terus menerus
dalam jumlah waktu yang sama akan
menurun secara mencolok, dan untuk
memperoleh pengaruh yang sama
kuatnya seperti sebelumnya, maka individu
secara berangsur-angsur harus
meningkatkan jumlah pemakaian agar tidak
terjadi toleransi, contohnya
pemain tidak akan mendapatkan perasaan
kegembiraan yang sama seperti
jumlah waktu pertama bermain sebelum
mencapai waktu yang lama.
4. Withdrawal symptoms.
Merupakan perasaan tidak menyenangkan yang terjadi
karena penggunaan internet
dikurangi atau tidak dilanjutkan dan hal ini
berpengaruh pada fisik seseorang,
perasaan dan efek antara perasaan dan fisik
(seperti, pusing, insomnia) atau
psikologisnya (misalnya, mudah marah atau
moodiness).
5. Conflict. Hal ini
mengarah pada konflik yang terjadi antara pengguna internet
dengan lingkungan sekitarnya
(konflik interpersonal), konflik dalam tugas
lainnya (pekerjaan, tugas,
kehidupan sosial, hobi) atau konflik yang terjadi
dalam dirinya sendiri (konflik
intrafisik atau merasa kurangnya kontrol) yang
diakibatkan karena terlalu banyak
menghabiskan waktu bermain internet.
6. Relapse. Hal ini
terjadi ketika individu kembali bermain internet, saat individu
tersebut belum sembuh dari
perilaku kecanduannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi internet
addiction diantaranya :
1. Gender
Gender mempengaruhi
jenis aplikasi yang digunakan dan penyebab individu
tersebut mengalami internet
addiction. Laki-laki tertarik pada hal-hal yang
dapat menunjukkan dominasinya dan
fantasi seksual online, contohnya game
online, situs porno, dan
perjudian online. Sedangkan perempuan tertarik pada
membina hubungan lebih akrab,
hubungan romantis, dan lebih suka
berkomunikasi dengan
menyembunyikan identitasnya, contohnya chatting,
eBay dan berbelanja online.
Hal ini menunjukkan bahwa atribut gender juga
sama-sama berperan dalam dunia
internet sebagaimana stereotipe antara lakilaki
dan perempuan di dunia nyata.
2. Kondisi psikologis
Survey di Amerika Serikat
menunjukkan bahwa lebih dari 50% individu yang
mengalami internet addiction juga
mengalami kecanduan pada hal lain,
seperti obat-obatan terlarang,
alkohol, rokok dan seks. Internet addiction
menimbulkan masalah-masalah
emosional seperti depresi, dan gangguan
kecemasan dan seringkali
menggunakan dunia fantasi di internet sebagai
pengalihan secara psikologis
terhadap perasaan-perasaan yang tidak
menyenangkan atau situasi yang
menimbulkan stres. Berdasarkan hasil survey
ini juga, diperoleh bahwa 75% individu
tersebut mulai menggunakan aplikasiaplikasi
online yang bersifat
interaktif seperti chat rooms, instant messaging,
dan games online.
3. Kondisi sosial ekonomi
Individu yang sudah bekerja
memiliki kemungkinan lebih besar mengalami
internet
addiction dibandingkan
dengan individu yang belum bekerja memiliki
fasilitas internet di kantornya
dan juga memiliki sejumlah gaji yang
memungkinkan individu tersebut
memiliki fasilitas komputer dan internet juga
dirumahnya, dibandingkan dengan individu
yang belum bekerja.
4. Tujuan dan waktu menggunakan
internet
Tujuan menggunakan internet akan
menentukan sejauhmana individu tersebut
akan mengalami internet
addiction, terutama dikaitkan terhadap banyaknya
waktu yang dihabiskan sendirian
didepan komputer. Individu yang
menggunakan internet untuk tujuan
pendidikan, misalnya pada pelajar dan
Bagitu juga individu yang
menggunakan internet untuk tujuan pekerjaan,
terutama pekerja yang ahli
komputer, sistem analis, dan sebagainya.
Umumnya, individu yang
menggunakan internet cukup jelas, dan bukan
digunakan sebagai upaya untuk
mengatasi atau melarikan diri dari masalahmasalah
yang dihadapinya di kehidupan
nyata atau sekedar hiburan, misalnya
kesulitan membangun hubungan
sosial, ketidakharmonisan dalam kehidupan
rumah tangga, dan sebagainya.
http://ancok.staff.ugm.ac.id/h-19/psikologi-dan-tantangan-millenium-ke-tiga-dampak-teknologi-
internet-pada-kehidupan-manusia-dan-pengelolaan-institusi-pendidikan-psikologi.html
Demetrovic, Zsolt, et.al. 2008. The
Three-factor Model On Internet Addiction: The Development of the Problematic
Internet Use Questionnaire.
Young, Kimberly S. 2006. Cyber Disorder: The Mental Health Concern for the New
Millennium.
0 comments:
Post a Comment