#TULISAN 1 PSIKOLOGI MANAJEMEN



FENOMENA KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI

Kajian tentang kepemimpinan merupakan sebuah kajian yang tetap eksis dalam rel kehidupan manusia yang terjelma dalam berbagai model aktualisasi dan berbagai macam teori-teori yang dilontarkan berkaitan dengan pemimpin. Kepemimpinan jika ditinjau dalam kajian bahasa Indonesia (adanya ke dan an dalam kata pemimpin) membahas tentang segala aspek tentang pemimpin. Kondisi yang terjadi dilapangan sangat berbeda dengan konsep demokrasi yang ideal sebab beberapa orang telah mencabut roh demokrasi yang sesungguhnya. Proses pemilihan sekarang bukan lagi berdasarkan hati nurani rakyat melainkan nafsu para pemimpin dengan menghalalkan berbagai cara agar bisa menang.

 Beberapa strategi yang cukup bagus dan sangat efektif yang telah diterapkan dimasyarakat adalah strategi pencucian otak. Jauh sebelum dilakukannya pemilihan, para calon pemimpin telah memakai make up tebal agar menarik simpati rakyat. Seolah berjuang untuk rakyat namun sebenarnya berjuang untuk dirinya sendiri ataupun kelompok tertentunya. Jika rakyat telah larut dengan berbagai keindahan yang ditawarkan maka dengan sekali sentuhan ketika pada waktunya tiba atau biasa disebut pesta demokrasi cukup mengatakan “saya hadir menjadi calon pemimpin bukan karena keinginan kalian namun karena panggilan tirani yang harus diberantas”.

Mendengarkan hal tersebut kemudian rakyat sudah memiliki calon yang tepat karena sebelumnya mereka telah melihat perjuangan-perjuangannya sebelum mengajukan diri menjadi calon pemimpin. Semua kebaikan telah tergambar dengan jelas dengan tingkat pencahayaan tinggi (mungkin saja memakai kamera 360) pada calon tersebut. Rakyat tidak sadar bahwa dalam dunia politik ada politik yang dikatakan politik pencitraan. Jika kondisi tersebut tersebut berlanjut rakyat kemudian tidak akan sadar bahwa dirinya telah terkondisikan dengan settingan yang sangat rapi dan terlihat sangat indah.

            Kondisi tersebut terjadi karena memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat sebagai alat kekuasaan yang keluar dari cita-cita ideal demokrasi. Sekarang yang menjadi permasalahan apakah demokrasi kontekstual dengan kondisi yang terjadi sekarang ? Jika konsep ideal tidak menjelma kedalam realitas karena persoalannya adalah bahwa konsep tersebut tidak mempertimbangkan kondisi yang ada di realitas. Ada sebuah benturan antara konsep ideal dengan tempat penerapan konsep tersebut akhirnya konsep tersebut dimanfaatkan oleh seseorang sebagai mobilitas kekuasaan. Konsep demokrasi menyamakan semua derajat kemanusiaan seseorang misalnya kemanusiaan seorang ustad sama dengan kemanusiaan seorang penjahat. Jika diposisikan sama seperti ini maka cita-cita ideal dari demokrasi tidak akan tercapai. Bagi penulis demokrasi merupakan suatu metodologi dalam pencarian seorang pemimpin dan realitas sekarang demokrasi bukan menjadi metodologi ideal dalam penetapan pemimpin. Hal ini disebabkan karena kontaminasi mikroorganisme jahat telah menjalar dalam isi kepala masyarakat saat ini

 
FENOMENA DALAM HAL MANAJEMEN

Praktik manajemen laba yang dilakukan perusahaan seringkali mengakibatkan kerugian bagi stakeholders dan menurunkan kualitas informasi laporan keuangan. Sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman penalaran moral, idealisme, dan relativisme. Karena hal tersebut  berpengaruh terhadap penilaian etis individu atas perilaku manajemen laba laba.

Demikian disampaikan Dosen Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ietje Nazaruddin, M.Si. Akt., dalam paparan disertasinya yang berjudul “Dampak Religiusitas, Relativisme, dan Idealisme Terhadap Penalaran Moral dan Perilaku Manajemen Laba”. Disertasi tersebut telah dipertahankan pada sidang promosi Doktor Ilmu Ekonomi, di Universitas Diponegoro, Sabtu (2/4) pagi. Dalam sidang tersebut, Ietje dinyatakan lulus dengan hasil “Sangat Memuaskan” dan Indeks Prestasi Kumulatif 3,65. Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Dr. Imam Ghozali, M.Com., Akt., sementara Co Promotor adalah Dr. Abdul Rohman, M.Si., Akt dan Anis Chariri, SE., M.Com., Akt., Ph.D.

Menurutnya, manajemen laba  merupakan isu yang menarik untuk dikaji jika dilihat dari perspektif etika. “Penelitian ini dilatar belakangi adanya fenomena praktik manajemen laba yang sering dilakukan perusahaan dan mengakibatkan kerugian bagi stakeholders dan menurunkan kualitas informasi laporan keuangan. Disisi lain penelitian-penelitian manajemen laba didominasi dengan pendekatan teori keagenan.  Teori keagenan mengatakan bahwa perilaku manajemen laba terjadi karena didorong sifat oportunistik individu yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dari sisi ekonomi,” terangnya.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa program pascasarjana di perguruan tinggi di Indonesia (magister manajemen, magister akuntansi dan program profesi akuntansi) yang telah dan atau sedang memegang jabatan pada tempat mereka bekerja. ”Pemilihan mahasiswa pascasarjana eksekutif dengan alasan mereka sudah paham mengenai  manajemen laba dan sudah pernah terlibat dalam proses pengambilan keputusan dalam organisasi yang mereka pimpin,” ungkap Ietje.

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukannya, Ietje menjelaskan penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa penalaran moral, idealisme, dan relativisme berpengaruh terhadap penilaian etis individu atas perilaku manajemen laba. ”Idealisme, religiusitas berpengaruh positif terhadap penalaran moral, sedangkan relativisme berpengaruh negatif terhadap penalaran moral. Religiusitas individu juga dipengaruhi oleh idealisme,” jelasnya.

 Lebih lanjut, Ietje mengungkapkan jika pengambilan kebijakan etis dipengaruhi oleh kemampuan penalaran individu. ”Hasil penelitian ini memberikan informasi tambahan pada literatur akuntansi manajemen dan keperilakuan, terutama mengenai perilaku manajemen laba,” ujarnya.

Ietje menambahkan jika penelitian ini juga memberikan implikasi kebijakan bagi organisasi profesi akuntansi maupun pimpinan perusahaan, serta akademisi. ”Pemahaman atas potensi penalaran moral, filosofi moral, dan religiusitas dalam mempengaruhi penerimaan individu atas etis atau tidak etisnya praktik manajemen laba tentunya akan membantu pihak –pihak terkait untuk mencari solusi guna mengurangi praktik manajemen laba,” urainya.

Untuk itu, Ietje berharap agar para pihak terkait mempertimbangkan cara untuk meningkatkan kemampuan penalaran moral, idealisme, dan religiusitas, serta menurunkan relativisme individu dalam upaya mengurangi praktik manajemen laba. ”Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pengadaan beragam pelatuhan dan menyusun kode etik. Selain itu, para akademisi juga mampu memberikan muatan etika yang lebih aplikatif dalam metode pembelajaran,” terangnya.


FENOMENA DALAM  HAL  PERENCANAAN

Konsep Spasial dalam Lingkup Wilayah
Ruang merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan wilayah. Konsep inilah yang tidak ada dalam teori ekonomi, sehingga dikatakan analisis ekonomi berada pada alam tanpa ruang (spaceless world). Padahal dalam konsep ilmu ekonomi telah dapat diterangkan tentang “apa”, “berapa”, “bagaimana”, “untuk siapa” dan “bila mana” dalam konteks produksi. Namun belum menjelaskan “di mana” aktivitas produksi tersebut dilaksanakan.

Konsep ruang atau spasial mempunyai beberapa unsur, yaitu : (1) jarak, (2) lokasi, (3) bentuk dan (4) ukuran. Konsep ruang sangat berkaitan erat dengan waktu, karena pemanfaatan bumi dengan segala kekayaannya membutuhkan organisasi/pengaturan ruang dan waktu. Unsur-unsur tersebut secara bersama-sama menyusun unit tata ruang yang disebut wilayah.

Whittlessey dalam Budiharsono (2001:13) memformulasikan pengertian tata ruang berdasarkan : (1) unit areal konkrit, (2) fungsionalitas di antara fenomena, dan (3) subyektifitas dalam penentuan kriteria. Kemudian Hartchorne mengintrodusikan unsur hubungan fungsional diantara fenomena, yang melahirkan konsep struktur fungsional tata ruang Struktur fungsional bersifat subyektif, karena dapat menentukan fungsionalitas berdasarkan kriteria subyektif.

Menurut Hanafiah (1996) konsep jarak mempunyai dua pengertian, yaitu jarak absolut dan jarak relatif yang mempengaruhi konsep jarak absolut dan relatif. Konsep jarak dan ruang relatif ini berkaitan dengan hubungan fungsionalitas di antara fenomena dalam struktur fungsional tata ruang. Dasar dan konsep ruang relatif adalah jarak relatif.
Jarak relatif merupakan fungsi dari pandangan atau persepsi terhadap jarak. Dalam konsep ruang absolut, jarak diukur secara fisik, sedangkan dalam konsep ruang relatif, jarak diukur secara fungsional berdasarkan unit ongkos, waktu dan usaha. Ide mendasar dari konsep ruang relatif adalah persepsi terhadap dunia nyata, yang mana akan dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, sosial, budaya, politik, psikologi dan sebagainya.





Category: 0 comments

0 comments:

Post a Comment

Transparent Sexy Pink Heart