FENOMENA KEPEMIMPINAN DALAM
ORGANISASI
Kajian tentang kepemimpinan
merupakan sebuah kajian yang tetap eksis dalam rel kehidupan manusia yang
terjelma dalam berbagai model aktualisasi dan berbagai macam teori-teori yang
dilontarkan berkaitan dengan pemimpin. Kepemimpinan jika ditinjau dalam kajian
bahasa Indonesia (adanya ke dan an dalam kata pemimpin) membahas tentang segala
aspek tentang pemimpin. Kondisi yang terjadi dilapangan sangat berbeda dengan
konsep demokrasi yang ideal sebab beberapa orang telah mencabut roh demokrasi
yang sesungguhnya. Proses pemilihan sekarang bukan lagi berdasarkan hati nurani
rakyat melainkan nafsu para pemimpin dengan menghalalkan berbagai cara agar
bisa menang.
Beberapa strategi yang cukup bagus dan sangat
efektif yang telah diterapkan dimasyarakat adalah strategi pencucian otak. Jauh
sebelum dilakukannya pemilihan, para calon pemimpin telah memakai make up tebal
agar menarik simpati rakyat. Seolah berjuang untuk rakyat namun sebenarnya
berjuang untuk dirinya sendiri ataupun kelompok tertentunya. Jika rakyat telah
larut dengan berbagai keindahan yang ditawarkan maka dengan sekali sentuhan
ketika pada waktunya tiba atau biasa disebut pesta demokrasi cukup mengatakan
“saya hadir menjadi calon pemimpin bukan karena keinginan kalian namun karena
panggilan tirani yang harus diberantas”.
Mendengarkan hal tersebut
kemudian rakyat sudah memiliki calon yang tepat karena sebelumnya mereka telah
melihat perjuangan-perjuangannya sebelum mengajukan diri menjadi calon
pemimpin. Semua kebaikan telah tergambar dengan jelas dengan tingkat
pencahayaan tinggi (mungkin saja memakai kamera 360) pada calon tersebut.
Rakyat tidak sadar bahwa dalam dunia politik ada politik yang dikatakan politik
pencitraan. Jika kondisi tersebut tersebut berlanjut rakyat kemudian tidak akan
sadar bahwa dirinya telah terkondisikan dengan settingan yang sangat rapi dan
terlihat sangat indah.
Kondisi tersebut terjadi karena memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat
sebagai alat kekuasaan yang keluar dari cita-cita ideal demokrasi. Sekarang
yang menjadi permasalahan apakah demokrasi kontekstual dengan kondisi yang
terjadi sekarang ? Jika konsep ideal tidak menjelma kedalam realitas karena
persoalannya adalah bahwa konsep tersebut tidak mempertimbangkan kondisi yang
ada di realitas. Ada sebuah benturan antara konsep ideal dengan tempat
penerapan konsep tersebut akhirnya konsep tersebut dimanfaatkan oleh seseorang
sebagai mobilitas kekuasaan. Konsep demokrasi menyamakan semua derajat
kemanusiaan seseorang misalnya kemanusiaan seorang ustad sama dengan
kemanusiaan seorang penjahat. Jika diposisikan sama seperti ini maka cita-cita
ideal dari demokrasi tidak akan tercapai. Bagi penulis demokrasi merupakan
suatu metodologi dalam pencarian seorang pemimpin dan realitas sekarang
demokrasi bukan menjadi metodologi ideal dalam penetapan pemimpin. Hal ini
disebabkan karena kontaminasi mikroorganisme jahat telah menjalar dalam isi
kepala masyarakat saat ini
FENOMENA DALAM HAL MANAJEMEN
Praktik manajemen laba yang dilakukan perusahaan
seringkali mengakibatkan kerugian bagi stakeholders dan menurunkan kualitas
informasi laporan keuangan. Sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan
pemahaman penalaran moral, idealisme, dan relativisme. Karena hal
tersebut berpengaruh terhadap penilaian etis individu atas perilaku
manajemen laba laba.
Demikian disampaikan Dosen Prodi Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ietje
Nazaruddin, M.Si. Akt., dalam paparan disertasinya yang berjudul
“Dampak Religiusitas, Relativisme, dan Idealisme Terhadap Penalaran Moral dan
Perilaku Manajemen Laba”. Disertasi tersebut telah dipertahankan pada sidang
promosi Doktor Ilmu Ekonomi, di Universitas Diponegoro, Sabtu (2/4) pagi. Dalam
sidang tersebut, Ietje dinyatakan lulus dengan hasil “Sangat Memuaskan” dan
Indeks Prestasi Kumulatif 3,65. Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Dr.
Imam Ghozali, M.Com., Akt., sementara Co Promotor adalah Dr. Abdul Rohman,
M.Si., Akt dan Anis Chariri, SE., M.Com., Akt., Ph.D.
Menurutnya, manajemen laba merupakan isu
yang menarik untuk dikaji jika dilihat dari perspektif etika. “Penelitian ini
dilatar belakangi adanya fenomena praktik manajemen laba yang sering dilakukan
perusahaan dan mengakibatkan kerugian bagi stakeholders dan menurunkan kualitas
informasi laporan keuangan. Disisi lain penelitian-penelitian manajemen laba
didominasi dengan pendekatan teori keagenan. Teori keagenan
mengatakan bahwa perilaku manajemen laba terjadi karena didorong sifat
oportunistik individu yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dari sisi
ekonomi,” terangnya.
Penelitian ini melibatkan mahasiswa program
pascasarjana di perguruan tinggi di Indonesia (magister manajemen, magister
akuntansi dan program profesi akuntansi) yang telah dan atau sedang memegang
jabatan pada tempat mereka bekerja. ”Pemilihan mahasiswa pascasarjana eksekutif
dengan alasan mereka sudah paham mengenai manajemen laba dan sudah
pernah terlibat dalam proses pengambilan keputusan dalam organisasi yang mereka
pimpin,” ungkap Ietje.
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian
hipotesis yang telah dilakukannya, Ietje menjelaskan penelitian ini memberikan
bukti empiris bahwa penalaran moral, idealisme, dan relativisme berpengaruh
terhadap penilaian etis individu atas perilaku manajemen laba. ”Idealisme,
religiusitas berpengaruh positif terhadap penalaran moral, sedangkan
relativisme berpengaruh negatif terhadap penalaran moral. Religiusitas individu
juga dipengaruhi oleh idealisme,” jelasnya.
Ietje menambahkan jika penelitian ini juga
memberikan implikasi kebijakan bagi organisasi profesi akuntansi maupun
pimpinan perusahaan, serta akademisi. ”Pemahaman atas potensi penalaran moral,
filosofi moral, dan religiusitas dalam mempengaruhi penerimaan individu atas
etis atau tidak etisnya praktik manajemen laba tentunya akan membantu pihak
–pihak terkait untuk mencari solusi guna mengurangi praktik manajemen laba,”
urainya.
Untuk itu, Ietje berharap agar para pihak terkait
mempertimbangkan cara untuk meningkatkan kemampuan penalaran moral, idealisme,
dan religiusitas, serta menurunkan relativisme individu dalam upaya mengurangi
praktik manajemen laba. ”Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pengadaan beragam
pelatuhan dan menyusun kode etik. Selain itu, para akademisi juga mampu
memberikan muatan etika yang lebih aplikatif dalam metode pembelajaran,”
terangnya.
FENOMENA DALAM HAL PERENCANAAN
Konsep Spasial dalam Lingkup Wilayah
Ruang merupakan hal yang sangat
penting dalam pembangunan wilayah. Konsep inilah yang tidak ada dalam teori
ekonomi, sehingga dikatakan analisis ekonomi berada pada alam tanpa ruang
(spaceless world). Padahal dalam konsep ilmu ekonomi telah dapat diterangkan
tentang “apa”, “berapa”, “bagaimana”, “untuk siapa” dan “bila mana” dalam
konteks produksi. Namun belum menjelaskan “di mana” aktivitas produksi tersebut
dilaksanakan.
Konsep ruang atau spasial mempunyai
beberapa unsur, yaitu : (1) jarak, (2) lokasi, (3) bentuk dan (4) ukuran.
Konsep ruang sangat berkaitan erat dengan waktu, karena pemanfaatan bumi dengan
segala kekayaannya membutuhkan organisasi/pengaturan ruang dan waktu.
Unsur-unsur tersebut secara bersama-sama menyusun unit tata ruang yang disebut
wilayah.
Whittlessey dalam Budiharsono
(2001:13) memformulasikan pengertian tata ruang berdasarkan : (1) unit areal
konkrit, (2) fungsionalitas di antara fenomena, dan (3) subyektifitas dalam
penentuan kriteria. Kemudian Hartchorne mengintrodusikan unsur hubungan
fungsional diantara fenomena, yang melahirkan konsep struktur fungsional tata
ruang Struktur fungsional bersifat subyektif, karena dapat menentukan
fungsionalitas berdasarkan kriteria subyektif.
Menurut Hanafiah (1996) konsep jarak
mempunyai dua pengertian, yaitu jarak absolut dan jarak relatif yang
mempengaruhi konsep jarak absolut dan relatif. Konsep jarak dan ruang relatif
ini berkaitan dengan hubungan fungsionalitas di antara fenomena dalam struktur
fungsional tata ruang. Dasar dan konsep ruang relatif adalah jarak relatif.
Jarak relatif merupakan fungsi dari
pandangan atau persepsi terhadap jarak. Dalam konsep ruang absolut, jarak
diukur secara fisik, sedangkan dalam konsep ruang relatif, jarak diukur secara
fungsional berdasarkan unit ongkos, waktu dan usaha. Ide mendasar dari konsep
ruang relatif adalah persepsi terhadap dunia nyata, yang mana akan dipengaruhi
oleh faktor-faktor ekonomi, sosial, budaya, politik, psikologi dan sebagainya.
0 comments:
Post a Comment